<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>MAKNA PEMILIHAN KEPALA DAERAH (PILKADA)MENURUT PASAL 18 AYAT (4) UUD 1945 Archives - Fakultas Hukum Universitas Pattimura</title>
	<atom:link href="https://fh.unpatti.ac.id/tag/makna-pemilihan-kepala-daerah-pilkadamenurut-pasal-18-ayat-4-uud-1945/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://fh.unpatti.ac.id/tag/makna-pemilihan-kepala-daerah-pilkadamenurut-pasal-18-ayat-4-uud-1945/</link>
	<description>Ad Augusta Per Angusta</description>
	<lastBuildDate>Sat, 16 May 2020 00:39:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://fh.unpatti.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/favicon.ico</url>
	<title>MAKNA PEMILIHAN KEPALA DAERAH (PILKADA)MENURUT PASAL 18 AYAT (4) UUD 1945 Archives - Fakultas Hukum Universitas Pattimura</title>
	<link>https://fh.unpatti.ac.id/tag/makna-pemilihan-kepala-daerah-pilkadamenurut-pasal-18-ayat-4-uud-1945/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>MAKNA PEMILIHAN KEPALA DAERAH (PILKADA) MENURUT PASAL 18 AYAT (4) UUD 1945</title>
		<link>https://fh.unpatti.ac.id/makna-pemilihan-kepala-daerah-pilkada-menurut-pasal-18-ayat-4-uud-1945/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[FHukum CMSMaster]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2016 03:24:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Tata Negara / Hukum Administrasi Negara]]></category>
		<category><![CDATA[MAKNA PEMILIHAN KEPALA DAERAH (PILKADA)MENURUT PASAL 18 AYAT (4) UUD 1945]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://103.56.70.113/index.php/2016/11/07/makna-pemilihan-kepala-daerah-pilkada-menurut-pasal-18-ayat-4-uud-1945/</guid>

					<description><![CDATA[<p>MAKNA PEMILIHAN KEPALA DAERAH (PILKADA) MENURUT PASAL 18 AYAT (4) UUD 1945*) Oleh: Muhammad Irham Abstrak Penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam beberapa undang-undang. Pada Orde Baru diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. Pada Era Reformasi,&#160; ada beberapa undang-undang yang mengatur Pemerintahan Daerah, yakni Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://fh.unpatti.ac.id/makna-pemilihan-kepala-daerah-pilkada-menurut-pasal-18-ayat-4-uud-1945/">MAKNA PEMILIHAN KEPALA DAERAH (PILKADA) MENURUT PASAL 18 AYAT (4) UUD 1945</a> appeared first on <a href="https://fh.unpatti.ac.id">Fakultas Hukum Universitas Pattimura</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman', serif;">MAKNA PEMILIHAN KEPALA DAERAH (PILKADA)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman', serif;">MENURUT PASAL 18 AYAT (4) UUD 1945</span><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman', serif;">*)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman', serif;">Oleh: </span></p>
<p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman', serif;">Muhammad Irham</span></p>
<p style="text-align: center; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman', serif;">Abstrak</span></p>
<p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span class="CharacterStyle1"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam beberapa undang-undang. Pada Orde Baru diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. Pada Era Reformasi,&nbsp; ada beberapa undang-undang yang mengatur Pemerintahan Daerah, yakni Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah serta Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun&nbsp; 2004 tentang Pemerintahan Daerah. </span></span><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian yang dilakukan atau ditujukan pada peraturan tertulis dan bahan-bahan hukum lainnya yang bersifat data sekunder yang ada di perpustakaan maupun jurnal hukum lainnya. Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa makana Pasal 18 Ayat (4) UUD 1945, adalah sebagai berikut: 1. Yang dipilih secara demokrasi adalah kepala daerah (Gubernur, Bupati, Walikota). Dengan kata lain Wakil Kepala Daerah (Wakil Gubernur, Wakil Bupati, Wakil Walikota) tidak diharuskan dipilih satu paket dengan kepala daerah. Ketentuan ini juga dapat ditafsirkan bahwa posisi wakil kepala daerah sesungguhnya dapat dihilangkan dalam sistem Pemerintahan Daerah. 2. Kehadiran UU Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Anggota MPR, DPR, DPD, dan DPRD (telah diganti dengan UU No. 7 Tahun 2009), yang tidak lagi memberikan kewenangan kepada DPRD untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang kemudian dilanjutkan dengan pengundangan UU Nomor 32 Tahun 2004 memberikan kepastian hukum bahwa makna “dipilih secara demokratis” adalah pemilihan langsung oleh rakyat (<i>one man one vote</i>).</span></p>
<p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Kata Kunci: UUD 1945, Pemilihan Kepala Daerah</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;"><br /> </span></p>
<ol>
<li style="list-style-type: upper-alpha;"><b><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Pendahuluan</span></b></li>
</ol>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 30px; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Immanuel Kant seperti dikutip Soehino dalam Salim, HS, berpendapat bahwa: ”tujuan negara adalah menegakkan hukum dan menjamin kebebasan warga negaranya. Dalam pengertian kebebasan di sini adalah kebebasan dalam batas-batas perundang-undangan, sedangkan yang membuat undang-undang adalah rakyat sendiri. Undang-undang merupakan penjelmaan kemauan atau kehendak rakyat. Jadi rakyatlah yang memiliki kekuasaan tertinggi atau kedaulatan”.<a href="#ftn1" id="ftnref1" style="vertical-align: super;">[2]</a></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 30px; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Sebagai bangsa yang ingin tetap bersatu maka kita telah menetapkan dasar dan idiologi negara, yakni Pancasila yang dipilih sebagai dasar pemersatu dan pengikat yang kemudian melahirkan kaidah-kaidah penuntun dalam kehidupan sosial, politik, dan hukum. Selanjutnya prinsip-prinsip dan mekanisme ketatanegaraan untuk menjamin demokrasi diatur didalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) yang memasang rambu-rambu agar bangsa ini tetap utuh. Dengan demikian, tuntunan akan integrasi dan demokrasi sebagaimana dikemukakan oleh Geertz telah diatur dalam Pancasila dan UUD 1945.<a href="#ftn3" id="ftnref3" style="vertical-align: super;">[4]</a></span></p>
<ol>
<li style="list-style-type: upper-alpha;"><b><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Metode Penelitian</span></b></li>
<li><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Jenis Penelitian dan Pendekatan Penelitian</span></li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian yang dilakukan atau ditujukan pada peraturan tertulis dan bahan-bahan hukum lainnya yang bersifat data sekunder yang ada di perpustakaan maupun jurnal hukum lainnya.<a href="#ftn5" id="ftnref5" style="vertical-align: super;">[6]</a></span></p>
<ol>
<li style="list-style-type: lower-alpha;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Penelitian terhadap asas-asas hukum, seperti misalnya penelitian terhadap hukum positif&nbsp; yang tertulis atau penelitian terhadap kaedah-kaedah hukum yang hidup di dalam masyarakat.</span></li>
<li style="list-style-type: lower-alpha;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Penelitian terhadap sistematika hukum, dilakukan dengan menelaah pengertian dasar dari sistem hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan.</span></li>
<li style="list-style-type: lower-alpha;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Penelitian terhadap sinkronisasi hukum, dapat dilakukan baik sinkronisasi secara vertikal (beda derajat) ataupun secara horizontal (sama derajat/sederajat).</span></li>
<li style="list-style-type: lower-alpha;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Penelitian sejarah hukum, merupakan penelitian yang lebih dititik beratkan pada perkembangan-perkembangan hukum. Dalam setiap analisa yang dilakukan dalam penelitian ini akan mempergunakan perbandingan-perbandingan terhadap satu atau beberapa sistem hukum.</span></li>
<li style="list-style-type: lower-alpha;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Penelitian terhadap perbandingan hukum, merupakan penelitian yang menekankan dan mencari adanya perbedaan-perbedaan yang ada pada berbagai sistem hukum.</span></li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Sedangkan pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan yang bertitik tolak dari asas-asas hukum, seperti misalnya penelitian terhadap hukum positif&nbsp; yang tertulis atau penelitian terhadap kaedah-kaedah hukum yang hidup di dalam masyarakat, yaitu dengan menelaah bahan-bahan hukum tertulis, teori-teori hukum. Selanjutnya menurut Peter Mahmud Marzuki Pendekatan dalam penelitian hukum terdiri dari: pendekatan undang-undang (<i>statute approach</i>), pendekatan kasus (<i>case approach</i>), pendekatan historis (<i>historical approach</i>), pendekatan komparatif (<i>comparative approach</i>), dan pendekatan konseptual (<i>conceptual approach</i>).<a href="#ftn7" id="ftnref7" style="vertical-align: super;">Jenis Data dan Sumber Data</a></span></p>
<p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><a href="file:///E:/Jurnal%20Irham/Jurnal%20Irham%20fix/Jurnal%20MAKNA%20Pilkada%20(M.%20Irham).docx#_ftn7" id="ftnref7" style="vertical-align: super;">Alat pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan dimana data diperoleh dari:</a><a href="file:///E:/Jurnal%20Irham/Jurnal%20Irham%20fix/Jurnal%20MAKNA%20Pilkada%20(M.%20Irham).docx#_ftn8" id="ftnref8" style="vertical-align: super;">Bahan hukum Primer, yaitu mencakup peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, antara lain:</a></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 90px; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;">&#8211;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Undang-Undang Dasar 1945;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 90px; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;">&#8211;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan;</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 90px; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;">&#8211;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Undang-Undang dan atau Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait dengan penelitian ini.</p>
<ol>
<li style="list-style-type: lower-alpha;">Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan dan erat hubungannya dengan bahan primer yang dapat membantu menganalisa dan memahami bahan-bahan hukum primer. Bahan hukum primer ini seperti: buku, hasil penelitian, majalah, jurnal-jurnal hukum atau jurnal-jurnal umum, artikel, catatan kuliah dan makalah, serta yang lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.</li>
<li style="list-style-type: lower-alpha;">Bahan hukum tertier adalah bahan hukum yang bersifat menunjang bahan-bahan hukum primer dan sekunder, seperti Kamus Umum Bahasa Indonesia.</li>
</ol>
<ol>
<li>Teknik Pengumpulan Data</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Dalam penelitian hukum normatif dapat dilakukan beberapa teknik pengumpulan data, diantaranya:</p>
<ol>
<li style="list-style-type: lower-alpha;">Mengumpulkan informasi untuk mendapatkan gambaran atau informasi tentang penelitian yang sejenis dan berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.</li>
<li style="list-style-type: lower-alpha;">Inventarisasi bahan-bahan untuk mendapatkan metode, teknik, atau cara pendekatan pemecahan permasalahan yang digunakan sebagai sumber data sekunder.</li>
<li style="list-style-type: lower-alpha;">Kunjungan ke perpustakaan, baik perpustakaan daerah, perpustakaan fakultas maupun perpustakaan universitas untuk mendapatkan buku-buku, hasil peneltian terdahulu yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, misalnya laporan penelitian, bulletin, brosur, dan sebagainya.</li>
</ol>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 60px; text-align: justify; line-height: 150%;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>
<ol>
<li>Teknik Analisis Data</li>
</ol>
<p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><a href="file:///E:/Jurnal%20Irham/Jurnal%20Irham%20fix/Jurnal%20MAKNA%20Pilkada%20(M.%20Irham).docx#_ftn8" id="ftnref8" style="vertical-align: super;">Pada penelitian hukum normatif, pengelolaan data hakikatnya kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis. Sistematisasi berarti membuat klasifikasi terhadap bahan–bahan hukum tertulis tersebut untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi.</a><a href="#ftn9" id="ftnref9" style="vertical-align: super;"><b>Pembahasan</b></a></p>
<p class="Style2" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32&nbsp; Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 24 ayat&nbsp; (1) dijelaskan, bahwa setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah, Ayat (3) menjelaskan, Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah. Kemudian ayat (5) menyebutkan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (3) dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat di daerah yang bersangkutan.&nbsp;</p>
<p class="Style2" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Dari ketentuan tersebut terlihat bahwa, jabatan wakil kepala daerah baru ada setelah keluarnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 yang dipilih dalam satu pasangan secara langsung. Sebelumnya dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974, penyelenggaraan&nbsp; pemerintahan di daerah hanya dilakukan oleh Bupati/Walikotamadya yang merupakan penguasa tunggal di daerah yang dipilih melalui rapat paripurna DPRD.</p>
<p class="Style2" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><a href="file:///E:/Jurnal%20Irham/Jurnal%20Irham%20fix/Jurnal%20MAKNA%20Pilkada%20(M.%20Irham).docx#_ftn9" id="ftnref9" style="vertical-align: super;">Selanjutnya menurut Bagir Manan seprti yang dikutip Suharizal, Pasal 18 UUD 1945 yang telah diamandemen lebih sesuai dengan gagasan daerah membentuk pemerintahan daerah sebagai satuan pemerintah mandiri di daerah yang demokratis. lebih lanjut Bagir Manan mengatakan bahwa asas dekonsentrasi adalah instrument sentralisasi, karena itu sangat keliru kalau ditempatkan dalam sistematika pemerintahan daerah yang merupakan antithesis dari sentralisasi.</a><a href="file:///E:/Jurnal%20Irham/Jurnal%20Irham%20fix/Jurnal%20MAKNA%20Pilkada%20(M.%20Irham).docx#_ftn10" id="ftnref10" style="vertical-align: super;">UUD 1945 tidak mengharuskan kepala daerah dipilih secara langsung, dan calon kepala daerah tidak harus berasal dari partai politik atau gabungan dari partai politik.</a><a href="#ftn11" id="ftnref11" style="vertical-align: super;">Frasa “dipilih secara Demokratis” tidaklah dapat ditafsirkan bahwa rekrutmen pasangan calon menjadi kewenangan mutlak partai politik sebagai salah satu lembaga yang berfungsi melakukan rekrutmen politik dalam pengisian jabatan publik melalui mekanisme yang demokratis. Sebab demokratis dituntut adanya pemerintahan daerah yang memperoleh hak otonomi.</a><a href="file:///E:/Jurnal%20Irham/Jurnal%20Irham%20fix/Jurnal%20MAKNA%20Pilkada%20(M.%20Irham).docx#_ftn12" id="ftnref12" style="vertical-align: super;">Lembaga yang memiliki kewenangan melakukan rekrutmen calon kepala daerah, adalah lembaga yang juga menjadi penanggung jawab pelaksana pemilu (Pemilu Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilu Legislatif) yaitu KPU(D). Dalam Pasal 22E ayat (1) menyatakan; “Pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil setiap lima tahun sekali.” Ayat (2) “Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.” Sedangkan sebagai pelaksananya disebut dalam Pasal 22E ayat (5) menyatakan; “Pemilihan Umum diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri.</a><a href="#ftn13" id="ftnref13" style="vertical-align: super;">Pasal 18 Ayat (4) tersebut hanya mengharuskan yang dipilih secara demokrasi adalah kepala daerah (Gubernur, Bupati, Walikota). Dengan kata lain Wakil Kepala Daerah (Wakil Gubernur, Wakil Bupati, Wakil Walikota) tidak diharuskan dipilih satu paket dengan kepala daerah. Ketentuan ini juga dapat ditafsirkan bahwa posisi wakil kepala daerah sesungguhnya dapat dihilangkan dalam sistem Pemerintahan Daerah.</a><a href="file:///E:/Jurnal%20Irham/Jurnal%20Irham%20fix/Jurnal%20MAKNA%20Pilkada%20(M.%20Irham).docx#_ftn14" id="ftnref14" style="vertical-align: super;">[15]</a></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 30px; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">Umumnya kepala daerah dan Wakada pecah kongsi lantaran ada kon&shy;&shy;flik kepentingan diantara keduanya. Bahkan tidak jarang, keduanya memu&shy;tuskan untuk sama-sama kembali men&shy;calonkan diri sebagai kepala daerah pa&shy;da periode berikutnya. Akibatnya, baik kepala daerah dan Wa&shy;&shy;kada sama-sama sibuk mencari pe&shy;nga&shy;&shy;ruh serta dukungan untuk kepen&shy;tingan pemenangan Pilkada. Sehing&shy;ga orientasi pemimpin daerah tidak lagi pada bagaimana melaksanakan pem&shy;ba&shy;ng&shy;&shy;u&shy;nan dan meningkatkan kesejah&shy;teraan rak&shy;yat, tetapi bagaimana menebar penga&shy;ruh dan dukungan dari semua kalangan, ter&shy;masuk birokrasi. Perpecahan itu juga mengakibatkan pegawai tidak fokus meningkatkan kinerja, karena terpe&shy;ngaruh dukung-mendukung.<a href="file:///E:/Jurnal%20Irham/Jurnal%20Irham%20fix/Jurnal%20MAKNA%20Pilkada%20(M.%20Irham).docx#_ftn16" id="ftnref16" style="vertical-align: super;"><b>Kesimpulan</b></a></span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 30px; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa makana Pasal 18 Ayat (4) UUD 1945, adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Yang dipilih secara demokrasi adalah kepala daerah (Gubernur, Bupati, Walikota). Dengan kata lain Wakil Kepala Daerah (Wakil Gubernur, Wakil Bupati, Wakil Walikota) tidak diharuskan dipilih satu paket dengan kepala daerah. Ketentuan ini juga dapat ditafsirkan bahwa posisi wakil kepala daerah sesungguhnya dapat dihilangkan dalam sistem Pemerintahan Daerah.</li>
<li>Kehadiran UU Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Anggota MPR, DPR, DPD, dan DPRD (telah diganti dengan UU No. 7 Tahun 2009), yang tidak lagi memberikan kewenangan kepada DPRD untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang kemudian dilanjutkan dengan pengundangan UU Nomor 32 Tahun 2004 memberikan kepastian hukum bahwa makna “dipilih secara demokratis” adalah pemilihan langsung oleh rakyat (<i>one man one vote</i>).</li>
</ol>
<p><a href="file:///E:/Jurnal%20Irham/Jurnal%20Irham%20fix/Jurnal%20MAKNA%20Pilkada%20(M.%20Irham).docx#_ftn16" style="vertical-align: super;"></a></p>
<p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 150%;">DAFTAR PUSTAKA</p>
<p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;">Buku :</p>
<p style="margin-left: 30px; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">Bambang Sunggono, 2011, <b><i>Metodologi Penelitian Hukum</i></b>, Rajawali Pres, Jakarta</p>
<p style="margin-left: 30px; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">Dahlan Thaib, 2011, <b><i>Teori dan Hukum Konstitusi</i></b>, Rajawali Pers, Jakarta</p>
<p style="margin-left: 30px; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">Peter Mahmud Marzuki, 2011, <b><i>Penelitian Hukum</i></b>, Kencana, Jakarta</p>
<p style="margin-left: 30px; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">Salim, HS, 2010, <b><i>Perkembangan Teori dalam Ilmu Hukum</i></b>, Rajawali Pres, Jakarta</p>
<p style="margin-left: 30px; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">Moh. Mahfud MD, 2010, <b><i>Konstitusi dan Hukum dalam Kontroversi dan Isu</i></b>, Rajawali Pres, Jakarta</p>
<p style="margin-left: 30px; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">&shy;&shy;______, 1998, <b><i>Politik Hukum di Indonesia</i></b>, Pustaka LP3ES, Jakarta, hlm</p>
<p style="margin-left: 30px; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2006, <b><i>Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat</i></b>, Rajawali Pres, Jakarta</p>
<p style="margin-left: 30px; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">Suharizal, 2011, <b><i>Pemilukada: Regulasi, Dinamika, dan Konsep Mendatang</i></b>, Rajawali Pres, Jakarta</p>
<p style="margin-left: 30px; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">______, 2002, <b><i>Reformasi Konstitusi 1998-2002 Pergulatan Konsep dan Pemikiran Amandemen UUD 1945</i></b>, Anggrek Law Firm, Padang</p>
<p style="margin-left: 30px; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">Undang-Undang :</p>
<p style="margin-left: 30px; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">Undang Dasar 1945</p>
<p style="margin-left: 30px; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003</p>
<p style="margin-left: 30px; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004</p>
<p style="margin-left: 30px; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2009</p>
<p style="margin-left: 30px; text-indent: -36pt; line-height: 150%;">Internet:</p>
<p style="margin-left: 30px; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"><a href="file:///E:/Jurnal%20Irham/Jurnal%20Irham%20fix/Jurnal%20MAKNA%20Pilkada%20(M.%20Irham).docx#_ftn16" id="ftnref16" style="vertical-align: super;"></a><a href="http://padangekspres.co.id/"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">http://padangekspres.co.id</span></a></p>
<p style="margin-left: 30px; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: 'Times New Roman', serif;">http://avivsyuhada.wordpress.com</span></p>
<hr style="text-align: left;" />
<div>
<p style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"><a href="#ftnref1" id="ftnref1" style="vertical-align: super;"></a>*) Di terbitkan dalam Jurnal Ilmiah “<b>EKOTRANS</b>”, ISSN 1411 &#8211; 4615, Vol.13 No.1, Januari 2013</p>
<p style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">[2]<span style="font-size: 9pt; font-family: 'Times New Roman', serif;">&nbsp; Dahlan Thaib, 2011, <b><i>Teori dan Hukum Konstitusi</i></b>, Rajawali Pers, Jakarta, hlm. 4, hlm. 5</span></p>
</p></div>
<div>
<p style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><a href="#ftnref3" id="ftnref3" style="vertical-align: super;">[4]</a><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Times New Roman', serif;">Moh, Mahfud, MD, 1998, <b><i>Politik Hukum di Indonesia</i></b>, Pustaka LP3ES, Jakarta, hlm. 90 – 91 </span></p>
</p></div>
<div>
<p style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><a href="#ftnref5" id="ftnref5" style="vertical-align: super;">[6]</a><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Times New Roman', serif;">Bambang Waluyo, 2008, <b><i>Penelitian Hukum Dalam Praktek</i></b>, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 13-14.&nbsp;&nbsp; </span></p>
</p></div>
<div>
<p style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><a href="#ftnref7" id="ftnref7" style="vertical-align: super;">[8]</a><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Times New Roman', serif;">Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2006, <b><i>Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat</i></b>, Rajawali Pres, Jakarta, hlm. 14.</span></p>
</p></div>
<div>
<p style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><a href="#ftnref9" id="ftnref9" style="vertical-align: super;">[10]</a><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Times New Roman', serif;"> Suharizal, 2011, <b><i>Pemilukada: Regulasi, Dinamika, dan Konsep Mendatang</i></b>, Rajawali Pres, Jakarta, hlm. 25</span></p>
</p></div>
<div>
<p style="text-indent: 36pt;"><a href="#ftnref11" id="ftnref11" style="vertical-align: super;">[12]</a><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Times New Roman', serif;"> Ibid, hlm. 26</span></p>
</p></div>
<div>
<p style="text-indent: 36pt;"><a href="#ftnref13" id="ftnref13" style="vertical-align: super;">[14]</a><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Times New Roman', serif;"> Ibid, hlm. 28</span></p>
</p></div>
<div>
<p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"><a href="file:///E:/Jurnal%20Irham/Jurnal%20Irham%20fix/Jurnal%20MAKNA%20Pilkada%20(M.%20Irham).docx#_ftnref15" id="ftnref15" style="vertical-align: super;">[16]</a><span style="font-size: 9pt;">Suharizal, <i>Menghapus Wakil Kepala Daerah</i>, Opini,&nbsp; </span><a href="http://padangekspres.co.id/?news=nberita&#038;id=2515"><span style="font-size: 9pt;">http://padangekspres.co.id/?news=nberita&#038;id=2515</span></a><span style="font-size: 9pt;">, diakses pada hari Senin Tanggal 6 Januari 2014, pukul 12.00 wib</span></p>
</p></div>
<p>The post <a href="https://fh.unpatti.ac.id/makna-pemilihan-kepala-daerah-pilkada-menurut-pasal-18-ayat-4-uud-1945/">MAKNA PEMILIHAN KEPALA DAERAH (PILKADA) MENURUT PASAL 18 AYAT (4) UUD 1945</a> appeared first on <a href="https://fh.unpatti.ac.id">Fakultas Hukum Universitas Pattimura</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
