Workshop OBE

Workshop Kurikulum OBE di FH Unpatti Dorong Penguatan Mutu Pendidikan Tinggi Berstandar Nasional dan Internasional

Berita

Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Universitas Pattimura menyelenggarakan Workshop Kurikulum OBE Nasional dan Internasional dengan tema “Outcome-Based Education (OBE) untuk Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi”. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu, 16 September 2026, di Aula Fakultas Hukum Universitas Pattimura.

Workshop dimulai pukul 09.00 WIT hingga selesai dan diikuti oleh unsur pimpinan fakultas, Wakil Dekan Bidang Akademik, Ketua Program Studi, dosen, serta peserta lainnya. Kegiatan dilaksanakan secara luring dan daring melalui Zoom, sehingga memungkinkan keterlibatan peserta dari berbagai unsur di lingkungan Universitas Pattimura.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman dan kesiapan fakultas serta program studi dalam mengembangkan dan menerapkan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Selain mendukung pemenuhan standar pendidikan tinggi nasional, implementasi OBE juga menjadi salah satu aspek penting dalam mempersiapkan program studi menghadapi asesmen dan akreditasi berstandar internasional.

Sebagai narasumber, LPMPP Unpatti menghadirkan Ir. Hendy Santosa, S.T., M.T., Ph.D. yang memberikan pemaparan mengenai pengembangan dan implementasi kurikulum OBE dari perspektif nasional maupun internasional. Materi yang disampaikan mencakup penyusunan capaian pembelajaran, pengukuran Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), pengembangan kurikulum, hingga keterkaitan kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha.

Pada pembukaan kegiatan, pimpinan Universitas Pattimura menekankan pentingnya membangun kesamaan pemahaman antarunsur fakultas dan program studi, khususnya dalam menghadapi proses asesmen. Keselarasan pemahaman antara Dekan, Wakil Dekan Bidang Akademik, Ketua Program Studi, dan dosen dinilai penting agar informasi yang disampaikan selama asesmen memiliki konsistensi.

“Di dalam simulasi nanti, tolong kita harus sinkron, satu frekuensi.”

Penekanan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi asesmen tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan dokumen, tetapi juga oleh pemahaman bersama terhadap substansi yang tercantum di dalamnya. Karena itu, berbagai dokumen yang telah dipersiapkan perlu dipahami oleh pihak-pihak terkait, sementara komponen pendukung lainnya harus diinventarisasi dan dipastikan ketersediaannya.

Hal ini menjadi semakin relevan seiring semakin dekatnya pelaksanaan asesmen lapangan. Fakultas dan program studi didorong untuk kembali melakukan pemeriksaan terhadap dokumen, data, serta berbagai bukti pendukung agar seluruh komponen yang diperlukan dapat dipersiapkan secara optimal.

Dalam sesi utama, Hendy Santosa mengajak peserta memahami OBE bukan sekadar sebagai pemenuhan administratif dalam penyusunan kurikulum, tetapi sebagai pendekatan yang menempatkan hasil pembelajaran dan kompetensi lulusan sebagai fokus utama proses pendidikan.

Ia menjelaskan bahwa salah satu aspek penting dalam penerapan OBE adalah perumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Menurutnya, jumlah CPL bukan menjadi ukuran utama. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana CPL tersebut mampu merepresentasikan dan mengakomodasi kompetensi yang harus dimiliki lulusan.

“CPL itu bukan ditentukan jumlahnya, tapi kompetensi yang bisa diakomodir oleh jumlah tersebut.”

Hendy juga menekankan pentingnya keterkaitan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Perguruan tinggi perlu memastikan bahwa pembelajaran yang diberikan mampu membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan para pengguna lulusan.

Dalam konteks tersebut, pengembangan kurikulum perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pemangku kepentingan. Dengan demikian, lulusan yang dihasilkan tidak hanya memenuhi target internal perguruan tinggi, tetapi juga memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan profesional dan dunia kerja.

Selain membahas perumusan CPL, workshop juga mengulas asesmen dan pengukuran capaian pembelajaran. Hendy menjelaskan bahwa pengukuran CPL perlu dilakukan secara sistematis dan didukung oleh pengelolaan data yang memadai. Semakin banyak capaian dan indikator yang harus diukur, semakin diperlukan sistem asesmen yang terstruktur agar hasil pengukuran dapat digunakan sebagai dasar evaluasi dan peningkatan mutu pembelajaran.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah keterukuran capaian pembelajaran. Visi keilmuan program studi perlu diterjemahkan ke dalam capaian yang dapat diukur serta memiliki keterkaitan yang jelas dengan visi fakultas dan universitas. Keselarasan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa proses pendidikan berjalan menuju hasil yang telah ditetapkan.

Workshop ini sekaligus memperkuat peran LPMPP Universitas Pattimura dalam mendampingi fakultas dan program studi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penerapan kurikulum berbasis OBE. Pengembangan kurikulum, penyelarasan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), serta penguatan sistem asesmen menjadi bagian dari upaya membangun proses pembelajaran yang berorientasi pada capaian.

Melalui kegiatan tersebut, Universitas Pattimura terus mendorong terbentuknya kesamaan persepsi, kesiapan dokumen, keterukuran capaian pembelajaran, serta keterkaitan kurikulum dengan kebutuhan pemangku kepentingan. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat budaya mutu sekaligus mendukung kesiapan program studi Universitas Pattimura dalam menghadapi asesmen dan akreditasi pada tingkat nasional maupun internasional.

Sumber: LPMPP Unpatti